PLAZNEWS — Normalisasi pasokan energi global dinilai dapat menurunkan biaya impor.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat memberikan kepastian bagi perekonomian global dan membawa dampak positif bagi Indonesia. Dia memperkirakan normalisasi jalur perdagangan energi akan memperlancar pasokan minyak dan gas dunia sehingga menekan harga komoditas serta memperbaiki sentimen pasar keuangan. "Kita berharap, dari damai perang di Timur Tengah membawa kepastian terhadap perekonomian global," ujar Huda saat dihubungi Republika di Jakarta, Rabu (17/6/2026). Baca Juga Panduan Orang Tua Tunggal Saat Kenalkan Sosok Baru pada Anak Di Balik Langkah Berbahaya Israel Ambil Alih Masjid Ibrahimi Hebron Warga Suarakan Dukungan untuk Kelanjutan Program Makan Bergizi Gratis Huda menyampaikan stabilitas di kawasan Timur Tengah sangat penting mengingat Selat Hormuz tersebut merupakan salah satu pemasok utama minyak mentah, gas alam, dan berbagai produk turunannya bagi dunia. Menurutnya, kelancaran distribusi energi akan memperbaiki rantai pasok global sehingga berdampak pada penurunan harga berbagai komoditas strategis, terutama minyak mentah. "Normalisasi transportasi selat hormuz akan meningkatkan kembali perekonomian global," ucap Huda. Dengan harga minyak global yang diperkirakan berada di kisaran 80 dolar AS per barel, Huda menilai, Indonesia berpotensi memperoleh keuntungan dari sisi fiskal maupun biaya impor. Pasalnya, pasokan menjadi lebih lancar, harga komoditas global akan menurun, salah satunya minyak mentah. "Di satu sisi kondisi ini bisa menyelamatkan APBN agar tidak membengkak dan membuat harga komoditas impor menjadi lebih murah," ungkap dia. Ia menambahkan, sentimen positif tersebut juga tercermin pada pergerakan pasar modal domestik. Huda mengatakan Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat memberikan kepastian bagi perekonomian global dan membawa dampak positif bagi Indonesia. Dia memperkirakan normalisasi jalur perdagangan energi akan memperlancar pasokan minyak dan gas dunia sehingga menekan harga komoditas serta memperbaiki sentimen pasar keuangan.
"Kita berharap, dari damai perang di Timur Tengah membawa kepastian terhadap perekonomian global," ujar Huda saat dihubungi Republika di Jakarta, Rabu (17/6/2026). Baca Juga Panduan Orang Tua Tunggal Saat Kenalkan Sosok Baru pada Anak Di Balik Langkah Berbahaya Israel Ambil Alih Masjid Ibrahimi Hebron Warga Suarakan Dukungan untuk Kelanjutan Program Makan Bergizi Gratis Huda menyampaikan stabilitas di kawasan Timur Tengah sangat penting mengingat Selat Hormuz tersebut merupakan salah satu pemasok utama minyak mentah, gas alam, dan berbagai produk turunannya bagi dunia. Menurutnya, kelancaran distribusi energi akan memperbaiki rantai pasok global sehingga berdampak pada penurunan harga berbagai komoditas strategis, terutama minyak mentah. "Normalisasi transportasi selat hormuz akan meningkatkan kembali perekonomian global," ucap Huda. Dengan harga minyak global yang diperkirakan berada di kisaran 80 dolar AS per barel, Huda menilai, Indonesia berpotensi memperoleh keuntungan dari sisi fiskal maupun biaya impor. Pasalnya, pasokan menjadi lebih lancar, harga komoditas global akan menurun, salah satunya minyak mentah. "Di satu sisi kondisi ini bisa menyelamatkan APBN agar tidak membengkak dan membuat harga komoditas impor menjadi lebih murah," ungkap dia. Ia menambahkan, sentimen positif tersebut juga tercermin pada pergerakan pasar modal domestik. Huda mengatakan Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika
"Kita berharap, dari damai perang di Timur Tengah membawa kepastian terhadap perekonomian global," ujar Huda saat dihubungi Republika di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Huda menyampaikan stabilitas di kawasan Timur Tengah sangat penting mengingat Selat Hormuz tersebut merupakan salah satu pemasok utama minyak mentah, gas alam, dan berbagai produk turunannya bagi dunia. Menurutnya, kelancaran distribusi energi akan memperbaiki rantai pasok global sehingga berdampak pada penurunan harga berbagai komoditas strategis, terutama minyak mentah. "Normalisasi transportasi selat hormuz akan meningkatkan kembali perekonomian global," ucap Huda. Dengan harga minyak global yang diperkirakan berada di kisaran 80 dolar AS per barel, Huda menilai, Indonesia berpotensi memperoleh keuntungan dari sisi fiskal maupun biaya impor. Pasalnya, pasokan menjadi lebih lancar, harga komoditas global akan menurun, salah satunya minyak mentah. "Di satu sisi kondisi ini bisa menyelamatkan APBN agar tidak membengkak dan membuat harga komoditas impor menjadi lebih murah," ungkap dia. Ia menambahkan, sentimen positif tersebut juga tercermin pada pergerakan pasar modal domestik. Huda mengatakan Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika
Huda menyampaikan stabilitas di kawasan Timur Tengah sangat penting mengingat Selat Hormuz tersebut merupakan salah satu pemasok utama minyak mentah, gas alam, dan berbagai produk turunannya bagi dunia. Menurutnya, kelancaran distribusi energi akan memperbaiki rantai pasok global sehingga berdampak pada penurunan harga berbagai komoditas strategis, terutama minyak mentah.
"Normalisasi transportasi selat hormuz akan meningkatkan kembali perekonomian global," ucap Huda. Dengan harga minyak global yang diperkirakan berada di kisaran 80 dolar AS per barel, Huda menilai, Indonesia berpotensi memperoleh keuntungan dari sisi fiskal maupun biaya impor. Pasalnya, pasokan menjadi lebih lancar, harga komoditas global akan menurun, salah satunya minyak mentah. "Di satu sisi kondisi ini bisa menyelamatkan APBN agar tidak membengkak dan membuat harga komoditas impor menjadi lebih murah," ungkap dia. Ia menambahkan, sentimen positif tersebut juga tercermin pada pergerakan pasar modal domestik. Huda mengatakan Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika
"Normalisasi transportasi selat hormuz akan meningkatkan kembali perekonomian global," ucap Huda.
Dengan harga minyak global yang diperkirakan berada di kisaran 80 dolar AS per barel, Huda menilai, Indonesia berpotensi memperoleh keuntungan dari sisi fiskal maupun biaya impor. Pasalnya, pasokan menjadi lebih lancar, harga komoditas global akan menurun, salah satunya minyak mentah. "Di satu sisi kondisi ini bisa menyelamatkan APBN agar tidak membengkak dan membuat harga komoditas impor menjadi lebih murah," ungkap dia. Ia menambahkan, sentimen positif tersebut juga tercermin pada pergerakan pasar modal domestik. Huda mengatakan Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika
Dengan harga minyak global yang diperkirakan berada di kisaran 80 dolar AS per barel, Huda menilai, Indonesia berpotensi memperoleh keuntungan dari sisi fiskal maupun biaya impor. Pasalnya, pasokan menjadi lebih lancar, harga komoditas global akan menurun, salah satunya minyak mentah.
"Di satu sisi kondisi ini bisa menyelamatkan APBN agar tidak membengkak dan membuat harga komoditas impor menjadi lebih murah," ungkap dia. Ia menambahkan, sentimen positif tersebut juga tercermin pada pergerakan pasar modal domestik. Huda mengatakan Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika
"Di satu sisi kondisi ini bisa menyelamatkan APBN agar tidak membengkak dan membuat harga komoditas impor menjadi lebih murah," ungkap dia.
Ia menambahkan, sentimen positif tersebut juga tercermin pada pergerakan pasar modal domestik. Huda mengatakan Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika
Ia menambahkan, sentimen positif tersebut juga tercermin pada pergerakan pasar modal domestik. Huda mengatakan
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika