Bisnis 08 May 2026

Bos BI Beberkan Alasan Tingginya Permintaan Valas di Periode April-Mei, Ini Penyebabnya

Bos BI Beberkan Alasan Tingginya Permintaan Valas di Periode April-Mei, Ini Penyebabnya

PLAZNEWS — Perry Warjiyo memastikan, kebutuhan valuta asing (valas) terpenuhi saat permintaannya meningkat, akibat faktor musiman pada periode April hingga Mei 2026.

Dia menjelaskan, lonjakan permintaan valas pada periode tersebut dipicu kebutuhan masyarakat untuk menunaikan ibadah umrah dan haji.

Tak hanya itu, pada periode tersebut biasanya para korporasi juga kerap melakukan repatriasi dividen, sekaligus pembayaran utang luar negeri.

"Secara musiman, di April sama Mei itu permintaan valasnya tinggi. Untuk apa? Untuk kita doakan seluruh masyarakat kita yang beribadah umrah dan haji, InsyaAllah nanti sehat, dan kita pastikan kebutuhan dolarnya terpenuhi," kata Perry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026 di kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.

Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026 Photo : [Mohammad Yudha Prasetya]

"Lalu juga di bulan April dan Mei itu memang korporasi banyak yang repatriasi dividen, membayar utang luar negeri baik bunga maupun pokok (utang). Jadi memang kondisinya seperti itu," ujarnya.

Karenanya, Perry juga memastikan bahwa di tengah pelemahan nilai tukar yang masih berlangsung, bank sentral akan tetap all out menjaga stabilitas rupiah sambil terus berkoordinasi dengan pemerintah.

"Kenapa ada pelemahan rupiah. Seluruh mata uang dunia itu melemah. Kita jaga tingkat pelemahannya itu tidak terlalu tinggi dengan all out," kata Perry.

Dia membeberkan, pelemahan nilai tukar rupiah didorong sejumlah faktor global, antara lain tensi geopolitik di Timur Tengah yang masih tinggi serta harga minyak dunia yang meningkat.

negara emerging market, sehingga memperkuat nilai tukar dolar AS.

Namun, Perry menekankan bahwa rupiah saat ini undervalued dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi. Dia juga memastikan kondisi perekonomian domestik tetap solid.

2026 tercatat sebesar 5,61 persen (yoy), neraca perdagangan, surplus dan cadangan devisa yang tetap tinggi.

Rekomendasi Terkait