Hiburan 12 May 2026

Cara Menggunakan Tali Pusar Bayi untuk Obat Demam Menurut Tradisi Jawa dan Pandangan Medis

Cara Menggunakan Tali Pusar Bayi untuk Obat Demam Menurut Tradisi Jawa dan Pandangan Medis

PLAZNEWS — Cara menggunakan tali pusar bayi untuk obat demam merupakan tradisi turun-temurun yang masih dipraktikkan di sebagian masyarakat Jawa. Tradisi ini melibatkan perendaman potongan tali pusar kering ke dalam segelas air hangat yang kemudian diminumkan kepada anak yang sedang demam.

Meski belum terkonfirmasi secara medis, praktik ini diyakini mampu menurunkan suhu tubuh anak. Banyak orang tua di generasi sebelumnya melaporkan bahwa cara menggunakan tali pusar bayi untuk obat demam ini memberikan hasil yang positif bagi anak mereka.

Penting untuk dipahami bahwa terdapat dua sudut pandang berbeda terkait praktik ini. Dari sisi tradisi, pengobatan ini dianggap sah dan sudah terbukti secara empiris dari generasi ke generasi, sementara dunia kedokteran modern menyarankan penanganan demam melalui metode yang sudah tervalidasi secara ilmiah.

Sebagaimana diungkapkan Dr. Melissa Tribuzio, MD, FAAP, dokter anak bersertifikasi, "Hal terbaik yang bisa Anda lakukan untuk tali pusar bayi baru lahir adalah membiarkannya saja. Orang tua sering merasa harus melakukan sesuatu, tetapi perawatan kering memang merupakan standar emas." Pernyataan ini menunjukkan bahwa perawatan tali pusat pada bayi baru lahir sebaiknya dilakukan secara minimalis dan higienis.

temurun di masyarakat Jawa dan masih dipraktikkan hingga saat ini oleh sebagian keluarga.

Siapkan gelas bersih dan air hangat: Gunakan gelas kaca atau keramik yang sudah dicuci bersih. Isi gelas dengan air matang yang masih hangat, bukan air mentah atau air panas mendidih, untuk menghindari kontaminasi bakteri.

Ambil potongan tali pusar yang sudah dikeringkan: Keluarkan tali pusar bayi yang sudah disimpan dari wadah penyimpanannya. Pastikan tali pusar tersebut masih dalam kondisi utuh dan tidak berjamur.

Celupkan tali pusar ke dalam air hangat: Rendam tali pusar ke dalam gelas berisi air hangat selama beberapa menit. Menurut tradisi, perendaman ini bertujuan agar zat-zat yang terkandung dalam tali pusar berpindah ke air.

Angkat tali pusar dari air: Setelah beberapa menit, angkat tali pusar dari gelas. Simpan kembali tali pusar ke wadah penyimpanannya yang bersih dan kering untuk penggunaan berikutnya.

Berikan air rendaman pada anak secara perlahan: Minumkan air rendaman kepada anak yang sedang demam secara bertahap. Perhatikan reaksi anak setelah meminumnya dan pantau kondisi suhu tubuhnya.

Perlu ditegaskan bahwa praktik ini belum didukung oleh penelitian ilmiah dan para ahli medis belum merekomendasikannya sebagai metode pengobatan.

Bagi keluarga yang ingin mempraktikkan cara menggunakan tali pusar bayi untuk obat demam, langkah penyimpanan yang tepat menjadi faktor krusial. Masyarakat Jawa tradisional biasanya menyimpan tali pusar dalam wadah khusus setelah puput atau lepas dari tubuh bayi.

Tunggu hingga tali pusar puput secara alami: Tali pusar bayi baru lahir biasanya lepas dalam waktu sekitar dua minggu setelah kelahiran. Jangan pernah menarik atau memaksa tali pusar lepas sebelum waktunya.

Bersihkan tali pusar yang sudah lepas: Setelah puput, bersihkan tali pusar secara hati-hati menggunakan kain bersih. Pastikan tidak ada sisa darah atau jaringan yang masih menempel.

Keringkan secara menyeluruh: Letakkan tali pusar di atas kain bersih dan biarkan mengering secara alami di tempat yang tidak lembap. Pengeringan sempurna membantu mencegah pertumbuhan jamur dan bakteri.

Bungkus dengan kain bersih atau kertas steril: Setelah benar-benar kering, bungkus tali pusar dengan kain katun bersih atau kertas steril untuk melindunginya dari debu dan kontaminan.

Simpan dalam wadah kedap udara: Tempatkan tali pusar yang sudah dibungkus ke dalam wadah bersih yang kedap udara. Simpan di tempat yang kering, sejuk, dan terhindar dari sinar matahari langsung.

satunya metode penanganan. Pengobatan tradisional sebaiknya dipadukan dengan langkah-langkah medis yang sudah terbukti.

Ukur suhu tubuh anak terlebih dahulu: Sebelum melakukan tindakan apa pun, gunakan termometer untuk mengukur suhu tubuh anak secara akurat. Demam pada anak umumnya ditandai dengan suhu di atas 37,5 derajat Celcius.

Berikan obat penurun panas sesuai dosis: Jika suhu anak cukup tinggi, berikan obat penurun panas seperti parasetamol sesuai dosis yang direkomendasikan untuk usia dan berat badan anak.

Kompres hangat pada dahi dan lipatan tubuh: Tempelkan kain yang dibasahi air hangat pada area dahi, ketiak, dan lipatan paha anak untuk membantu menurunkan suhu tubuh secara perlahan.

Pastikan anak tetap terhidrasi: Berikan ASI, air putih, atau cairan elektrolit untuk mencegah dehidrasi akibat demam. Hidrasi yang cukup sangat penting dalam proses pemulihan.

Pantau kondisi anak secara berkala: Ukur suhu tubuh setiap beberapa jam dan perhatikan gejala lain yang muncul. Jika demam tidak kunjung turun dalam 48 jam atau disertai gejala berat, segera bawa anak ke dokter.

tanda bahaya sangat penting bagi setiap orang tua.

Perhatikan usia anak: Bayi berusia di bawah 3 bulan yang mengalami demam harus segera dibawa ke dokter tanpa penundaan, karena sistem kekebalan tubuh mereka masih sangat rentan terhadap infeksi serius.

Cek apakah demam disertai kejang: Kejang demam ditandai dengan gerakan tubuh yang tidak terkontrol dan hilangnya kesadaran. Jika anak mengalami kejang, segera hubungi layanan darurat.

Amati adanya ruam atau bintik merah: Demam yang disertai ruam kulit, terutama bintik merah yang tidak menghilang saat ditekan, bisa menjadi tanda infeksi serius seperti meningitis.

Waspadai tanda dehidrasi berat: Jika anak menolak minum, bibir sangat kering, tidak buang air kecil selama lebih dari 6 jam, atau menangis tanpa air mata, ini menunjukkan dehidrasi berat yang memerlukan penanganan medis.

Evaluasi perilaku anak secara keseluruhan: Bayi yang mengalami demam disertai kelelahan ekstrem, rewel berlebihan, atau sulit menyusu perlu segera mendapat perhatian medis.

Dunia kedokteran modern belum menemukan bukti ilmiah yang mendukung penggunaan tali pusar kering sebagai obat demam. Praktik mencelupkan tali pusar ke dalam air untuk diminum tidak tercatat dalam literatur medis sebagai metode pengobatan yang valid. Meskipun tradisi dan mitos seputar kesehatan masih dipercaya banyak orang, pendekatan berbasis bukti tetap menjadi acuan utama dalam penanganan medis.

Tali pusar memang mengandung komponen biologis yang bermanfaat saat masih segar, terutama darah tali pusat yang kaya akan sel punca. Namun, tali pusar yang sudah mengering dan disimpan dalam waktu lama tidak lagi memiliki kandungan biologis aktif tersebut. Proses pengeringan dan penyimpanan membuat komponen seluler di dalamnya tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Para ahli kesehatan justru menyoroti potensi risiko dari praktik ini. Tali pusar yang disimpan tanpa prosedur sterilisasi medis berpotensi terkontaminasi oleh bakteri dan mikroorganisme lain. Ketika direndam dalam air dan diminum, ada kekhawatiran bahwa kontaminan tersebut justru bisa menyebabkan masalah kesehatan pada anak, terutama gangguan pencernaan atau infeksi.

Berdasarkan data Cleveland Clinic, omfalitis merupakan infeksi bakteri pada tunggul tali pusar bayi, yaitu bagian kecil dari tali pusar yang tersisa setelah persalinan. Sebagian besar bayi pulih dengan baik berkat antibiotik, meskipun beberapa mengalami komplikasi yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Ini menunjukkan bahwa area tali pusar memang rentan terhadap bakteri sejak awal.

Dalam perspektif hukum Islam, penggunaan tali pusar sebagai obat memiliki landasan yang perlu dipahami secara mendalam. Pembahasan ini mencakup dua aspek utama, yaitu kesucian tali pusar itu sendiri dan hukum penggunaannya sebagai media pengobatan. Tradisi Jawa Islam memiliki kekayaan perspektif yang menarik terkait hal ini.

Hukum kesucian tali pusar: Menurut mayoritas ulama mazhab Syafi'iyah, plasenta dan tali pusar yang keluar bersama bayi dihukumi suci. Syekh al-Bujairami dalam kitab Tuhfatul Habib ala Syarh al-Khathib mencatat, "Plasenta yang keluar bersama janin adalah suci." Dengan demikian, merendamnya ke dalam air tidak menjadikan air tersebut najis.

Kebolehan penggunaan sebagai obat: Karena tali pusar dihukumi suci, maka mencelupkannya ke dalam segelas air untuk diminum sebagai obat diperbolehkan dalam fikih Islam. Air tersebut tetap suci dan boleh dikonsumsi.

Larangan menjadikan jimat: Menyimpan tali pusar dengan tujuan dijadikan jimat atau penangkal bahaya tidak diperbolehkan karena termasuk perbuatan syirik. Penggunaan yang diperbolehkan hanyalah sebagai media pengobatan, bukan sebagai benda keramat.

Anjuran penguburan: Menurut kitab Nihayat al-Muhtaj, mengubur anggota tubuh yang terpisah dari seseorang, termasuk tali pusar, merupakan tindakan yang dianjurkan untuk menghormati pemiliknya. Ini menjadi alternatif bagi mereka yang tidak ingin menyimpannya.

Menghindari praktik berlebihan: Meskipun penguburan dianjurkan, praktik berlebihan seperti memasang lilin di atasnya dianggap tidak sesuai syariat. Penanganan sebaiknya dilakukan dengan sederhana dan tanpa ritual yang mengarah pada kepercayaan yang melampaui batas.

Meskipun tradisi merendam tali pusar kering belum terbukti secara medis, ilmu kedokteran modern justru menemukan nilai luar biasa pada darah yang terdapat di dalam tali pusar saat masih segar. Sebagaimana disampaikan American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), darah tali pusar adalah darah dari bayi yang tersisa di dalam tali pusat dan plasenta setelah kelahiran, dan mengandung sel-sel khusus bernama sel punca hematopoietik yang dapat digunakan untuk menangani beberapa jenis penyakit.

Saat ini, sel punca dari darah tali pusar digunakan untuk mengobati atau meringankan sekitar 80 penyakit, terutama kondisi limfatik dan hematopoietik seperti anemia sel sabit, anemia Fanconi, dan adrenoleukodistrofi. Pemanfaatan ini sangat berbeda dari praktik tradisional karena melibatkan prosedur medis canggih dan fasilitas penyimpanan khusus.

Sejak transplantasi darah tali pusar pertama pada tahun 1988, lebih dari 40.000 prosedur serupa telah dilakukan di seluruh dunia. Fakta ini menunjukkan betapa berharganya komponen biologis dalam tali pusar, meskipun pemanfaatannya memerlukan penanganan medis profesional dan bukan sekadar perendaman sederhana.

Penggunaan sel punca dari darah tali pusar memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sumsum tulang, di antaranya dapat diberikan kepada lebih banyak orang, memiliki kemungkinan kecocokan yang lebih tinggi, dan lebih kecil kemungkinan menyebabkan penolakan tubuh. Regenerasi sel punca memang menjadi salah satu bidang penelitian paling menjanjikan dalam kedokteran modern.

Salah satu perhatian utama terkait cara menggunakan tali pusar bayi untuk obat demam adalah risiko kontaminasi mikrobiologis. Tali pusar yang disimpan tanpa prosedur sterilisasi medis berpotensi menjadi media pertumbuhan bakteri yang berbahaya. Mengacu pada tinjauan pustaka di StatPearls, tali pusar merupakan penghubung antara bayi dan ibu selama kehamilan yang dipotong setelah kelahiran. Tunggulnya akan mengering dan biasanya terlepas dalam 5 hingga 15 hari, di mana bakteri dari kulit dan saluran pencernaan dapat mengkolonisasi jaringan mati pada tunggul tersebut dan menyebabkan infeksi.

Kolonisasi bakteri patogen: Omfalitis merupakan infeksi polimikrobial, dan patogen paling umum adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, serta bakteri gram negatif seperti Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, dan Proteus mirabilis.

steril: Tali pusar yang disimpan di rumah tanpa fasilitas sterilisasi tidak terlindungi dari paparan bakteri, jamur, dan debu yang terus-menerus.

Kontaminasi saat perendaman: Proses merendam tali pusar dalam air hangat justru bisa menjadi media pelepasan bakteri ke dalam cairan yang akan dikonsumsi anak.

Dampak pada sistem pencernaan anak: Bakteri yang masuk melalui air minum berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan, diare, atau infeksi yang lebih serius pada anak yang sedang sakit.

Tidak ada jaminan sterilitas: Berbeda dengan penyimpanan darah tali pusar di bank darah yang menggunakan fasilitas kriogenik, penyimpanan tradisional tidak memiliki kontrol kualitas apa pun.

Terlepas dari tradisi pengobatan, memahami perawatan tali pusat yang benar sejak bayi lahir sangat penting untuk mencegah infeksi. American Academy of Pediatrics (AAP) dan World Health Organization (WHO) sama-sama merekomendasikan perawatan tali pusat kering (dry cord care) untuk bayi yang lahir di lingkungan rumah sakit yang bersih. Area pusar sebagai bekas tali pusat memerlukan perhatian khusus selama masa penyembuhan.

Jaga tetap kering dan terbuka: Dilansir dari Mayo Clinic, area tunggul tali pusat perlu dijaga tetap kering, dibiarkan terpapar udara untuk membantu mengeringkan bagian dasarnya, dan bagian depan popok sebaiknya dilipat ke bawah agar tidak menutupi tunggul.

Hindari penggunaan alkohol: Mengutip Healthline, di Amerika Serikat, Inggris, dan banyak negara lainnya, infeksi tali pusar jarang terjadi pada bayi sehat dan cukup bulan yang lahir di rumah sakit. Penggunaan alkohol untuk membersihkan tali pusat sudah tidak lagi direkomendasikan.

Biarkan lepas secara alami: Jangan pernah menarik atau memaksa tunggul tali pusat terlepas, meskipun sudah terlihat hampir lepas. Tindakan ini bisa menyebabkan perdarahan dan membuka jalan masuk bagi bakteri.

Mandikan bayi dengan metode seka: Selama tali pusat belum puput, mandikan bayi menggunakan kain basah atau spons. Hindari merendam tubuh bayi di dalam bak mandi.

Jangan gunakan bedak, minyak, atau ramuan tradisional: Mengoleskan bahan-bahan tersebut pada tali pusat dapat memicu kelembapan berlebih yang menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan bakteri.

Waspadai tanda infeksi: Merujuk tinjauan Cochrane, infeksi tali pusar bisa terlihat jelas namun kadang tersembunyi. Pada infeksi yang nyata, tali pusar mungkin membengkak, kulit sekitarnya meradang, atau berbau tidak sedap jika terinfeksi bakteri anaerob. Penyebaran bakteri melalui pembuluh tali pusar tidak terlihat secara kasat mata tetapi dapat menyebabkan sepsis. Dalam kasus seperti itu, bayi juga mungkin mengalami demam, lesu, atau sulit menyusu.

Sebagai alternatif yang jauh lebih aman dibandingkan cara menggunakan tali pusar bayi untuk obat demam, terdapat metode alami yang sudah didukung penelitian untuk memperkuat kekebalan tubuh bayi. Menyusui dan kontak kulit merupakan dua pendekatan yang terbukti secara ilmiah mampu melindungi bayi dari berbagai infeksi.

bayi dapat terpapar bakteri normal kulit ibu. Menurut sebuah studi tahun 2006 terhadap bayi baru lahir di Nepal yang diterbitkan dalam American Journal of Epidemiology, bayi yang mendapat kontak kulit ke kulit memiliki kemungkinan 36 persen lebih kecil terkena infeksi tali pusar dibandingkan bayi yang tidak mendapat paparan kulit semacam ini.

Menyusui memungkinkan ibu meneruskan antibodi (zat yang membantu melawan penyakit) kepada bayinya, yang dapat membantu sistem kekebalan tubuh bayi berkembang dan menguat. Kedua metode ini telah divalidasi oleh berbagai penelitian dan menjadi rekomendasi global untuk kesehatan bayi baru lahir.

langkah ini bisa dilakukan di rumah sebagai pertolongan pertama sebelum membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila diperlukan.

Obat penurun panas sesuai usia: Parasetamol dan ibuprofen merupakan obat penurun panas yang aman untuk anak sesuai dosis yang dianjurkan dokter atau apoteker. Selalu perhatikan berat badan anak saat menghitung dosis.

Kompres hangat: Gunakan kain yang dibasahi air hangat (bukan air dingin atau es) dan tempelkan pada dahi, leher, ketiak, serta lipatan paha anak untuk membantu mempercepat penguapan panas dari tubuh.

Perbanyak asupan cairan: Asupan cairan yang cukup membantu tubuh anak dalam proses pemulihan dan mencegah dehidrasi. Berikan air putih, sup hangat, atau jus buah segar secara bertahap.

Pakaikan baju yang nyaman dan longgar: Hindari membungkus anak dengan pakaian tebal atau selimut berlapis saat demam. Pakaian ringan dari bahan katun membantu panas tubuh lebih mudah menguap.

Istirahat yang cukup: Pastikan anak beristirahat di ruangan yang nyaman dan berventilasi baik. Tidur yang cukup membantu sistem kekebalan tubuh bekerja lebih optimal dalam melawan infeksi.

Pantau suhu secara berkala: Gunakan termometer digital untuk memantau suhu tubuh anak setiap 4-6 jam. Catat perubahan suhu untuk dilaporkan kepada dokter jika diperlukan.

negara berpenghasilan rendah dan menengah. Klorheksidin juga kemungkinan menunda waktu lepasnya tunggul tali pusar selama satu hingga dua hari. Informasi ini menunjukkan bahwa penanganan medis berbasis bukti selalu menjadi pilihan yang lebih aman.

temurun yang belum tervalidasi oleh dunia kedokteran modern.

tahun. Namun, semakin lama disimpan, semakin besar pula risiko kontaminasi bakteri dan jamur pada tali pusar tersebut.

steril. Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mempraktikkan metode ini.

Menurut mayoritas ulama mazhab Syafi'iyah, tali pusar dihukumi suci sehingga merendamnya ke dalam air dan meminumnya sebagai obat diperbolehkan. Namun, penggunaannya tidak boleh disertai keyakinan bahwa tali pusar memiliki kekuatan gaib, karena hal tersebut dapat mengarah pada perbuatan syirik.

Anak harus segera dibawa ke dokter jika demam berlangsung lebih dari 48 jam, disertai kejang, ruam kulit, sesak napas, atau tanda dehidrasi berat. Bayi di bawah 3 bulan yang mengalami demam juga harus langsung mendapat penanganan medis tanpa penundaan.

buahan kaya vitamin C, dan memastikan anak beristirahat cukup. Metode-metode ini sudah direkomendasikan oleh tenaga medis dan lebih aman dibandingkan menggunakan tali pusar yang belum terbukti khasiatnya.

Tali pusar yang sudah kering tidak lagi mengandung sel punca aktif yang bermanfaat secara medis. Manfaat medis dari tali pusar terletak pada darah segar yang dikandungnya saat lahir, yang harus disimpan melalui prosedur khusus di bank darah tali pusat dengan fasilitas kriogenik berstandar internasional.

Memahami cara menggunakan tali pusar bayi untuk obat demam dari berbagai perspektif membantu orang tua membuat keputusan yang bijak. Tradisi boleh dihormati, namun kesehatan dan keselamatan anak harus selalu menjadi prioritas utama. Konsultasikan setiap keluhan kesehatan anak kepada dokter atau tenaga medis profesional untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan berbasis bukti ilmiah.

AQUA TEEN HUNGER FORCE COLON MOVIE FILM FOR THEATERS

Rekomendasi Terkait