PLAZNEWS — tiba ditemukan di balik tumpukan pakaian kering atau ponsel yang berpindah dari meja TV ke meja makan tanpa kamu ingat kronologinya mungkin terdengar sepele, tetapi cukup sering terjadi dalam keseharian. Situasi ini tentu kerap memicu rasa kesal, bingung, bahkan panik, terutama ketika sedang terburu-buru. Tidak sedikit dari kamu yang mengalaminya akan menilai diri sendiri sebagai pribadi yang ceroboh atau kurang teliti, padahal kebiasaan membiarkan barang tercecer di mana-mana ini tidak selalu sesederhana itu.
mana ini. Jadi, daripada sekadar menyalahkan diri sendiri, ada baiknya mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik kebiasaan ini seperti yang dilansir dari Your Tango berikut.
manauntuk menunjukkan bahwa kamu tetap memiliki empati dan kepedulian terhadap orang lain.
benar akan berusaha menunjukkan kepedulianmu secara nyata.
mana kerap dikaitkan dengan dorongan kreativitas yang lebih tinggi/
Meja yang berantakan sering kali mendukung dan mendorong pikiran kreatif, setidaknya menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science. Lingkungan yang dipenuhi rangsangan visual dari berbagai benda justru mendorongmu untuk menjadi lebih inovatif dan imajinatif dibandingkan suasana yang terlalu rapi.
Oleh karena itu, kebiasaan meninggalkan sedikit kekacauan sering kali bukan tanpa alasan. Hal ini bisa saja merupakan bagian dari caramu merangsang ide sekaligus cerminan keunikan kepribadian yang kamu miliki.
Sering lupa naruh barang sering berkaitan dengan keterikatan emosional yang kuat terhadap barang pribadi/
barangmu akan merasa sulit untuk membuang atau merapikannya, bahkan meskipun barang tersebut sudah tidak digunakan dan justru menambah kekacauan. Keterikatan ini sendiri bukan sekadar soal kebiasaan, tetapi bisa berkaitan dengan identitas diri.
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Behavioral Addictions pada tahun 2019 menunjukkan bahwa benda material sering kali menjadi representasi dari siapa diri seseorang sehingga melepaskannya akan terasa seperti kehilangan bagian dari diri. Contohnya terlihat dari kebiasaan menyimpan banyak pakaian yang sudah tidak muat, tetapi tetap dipertahankan karena masih terkait dengan ekspresi atau gambaran diri yang belum siap ditinggalkan.
Sering lupa naruh barang sering berkaitan dengan kebiasaan berbicara dengan diri sendiri yang cukup intens/
talk atau berbicara dengan diri sendiri cenderung mudah terdistraksi oleh alur pikiranmu sendiri. Fokusmu sering teralihkan ketika muncul pikiran atau hal lain yang dianggap lebih penting, termasuk saat sedang melakukan tugas sederhana seperti bersih-bersih.
talk juga berkaitan dengan fungsi eksekutif seseorang. Jadi, jika kamu dipenuhi banyak pikiran internal dan otakmu terbebani oleh berbagai input tersebut, kemungkinan besar melakukan tugas kecil seperti membersihkan rumah akan terasa sulit untuk dilakukan saat itu juga.
mana dapat berkaitan dengan kecenderungan perfeksionis yang tidak selalu terlihat/
Menurut sebuah studi yang dibagikan oleh American Psychological Association, kamu yang perfeksionis sering kali berisiko mengalami depresi dan kecemasan karena tekanan internal yang kamu berikan pada diri sendiri. Kamu menetapkan standar tinggi dan sering memberi tekanan pada diri sendiri sehingga rentan merasa cemas atau kecewa ketika ekspektasi tidak terpenuhi.
hal kecil seperti kerapian lingkungan sering kali terabaikan dan bukan menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, kamu akan sering meninggalkan kekacauan kecil di berbagai tempat.