PLAZNEWS — Jakarta, VIVA Dunia digital telah berubah drastis sejak pertama kali titik biru Google muncul di layar telepon seluler atau ponsel pada 20 puluh tahun silam.
Kala itu, Google Maps dimulai sebagai lompatan visi yang berani, sebuah ambisi untuk memetakan dunia yang saat itu dianggap mustahil bagi banyak orang.
Kini, evolusi tersebut telah membawa manusia dari sekadar navigasi statis menuju versi Bumi yang terdigitalisasi secara dinamis dan bertenaga kecerdasan buatan (AI).
meter hingga peningkatan inklusi keuangan melalui kecerdasan lokasi.
Memasuki dekade baru, pasar Indonesia menghadapi peluang yang unik. Pertumbuhan masif di sektor perbankan (BFSI), ritel, hingga rantai pasok (supply chain) menuntut tingkat kepresisian yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Dalam konteks inilah solusi Maps AI, seperti Agentic Maps dan Predictive Analytics, hadir sebagai kunci menuju keunggulan operasional bisnis.
Sebagai mitra resmi Google Maps Platform di Indonesia, Terralogiq berperan menyediakan strategi implementasi teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan di dalam negeri. Mulai dari tahap edukasi hingga eksekusi teknis pemanfaatan Maps dan AI.
CEO Terralogiq Thomas Hendy. Photo : Dok. Terralogiq
Karena itu, Google bersama Terralogiq bukan hanya merayakan dua dekade inovasi pemetaan, tetapi sebuah eksplorasi mendalam mengenai bagaimana garis depan teknologi Geospatial AI dirancang khusus untuk memperkuat daya saing lanskap bisnis di Indonesia.
"Kami melihat bahwa masa depan bukan lagi tentang mencari lokasi, melainkan tentang membangun kecerdasan operasional. Melalui integrasi Geospatial AI dan kerangka kerja seperti Mapmaster.AI. Kami juga berkomitmen mendampingi mitra industri untuk mengubah data spasial menjadi strategi bisnis yang prediktif dan transformatif," kata CEO Terralogiq Thomas Hendy di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Dari sisi teknis, CTO Terralogiq Farry Abimael Argoebie mengupas tuntas bagaimana AI kini mendefinisikan ulang fungsi peta dari sekadar alat navigasi menjadi mesin optimasi strategi bisnis yang presisi.
Ia menegaskan bahwa peta masa depan bukan lagi sekadar gambaran wilayah, melainkan pondasi kecerdasan yang akan menggerakkan efisiensi bisnis Indonesia menuju level berikutnya.