Gaya Hidup 04 May 2026

Mengenal Memory Investing, Pola Pikir Keuangan yang Booming di Kalangan Gen Z

Mengenal Memory Investing,  Pola Pikir Keuangan yang Booming di Kalangan Gen Z

PLAZNEWS — Di tengah naiknya biaya hidup dan tekanan finansial yang semakin terasa, Gen Z menemukan cara pandang baru soal finansial. Bagi mereka, uang bukan sekadar ditabung atau dihabiskan untuk barang, tapi diinvestasikan dalam pengalaman. Cara pandang ini dikenal sebagai memory investing, sebuah pendekatan keuangan yang menekankan nilai kenangan dibanding kepemilikan fisik.

Secara garis besar, memory investing menjadi refleksi perubahan prioritas generasi muda dalam mengelola keuangan. Fokusnya bukan lagi "punya apa, melainkan mengalami apa. Jadi, apa, sih, sebenarnya memory investing itu, dan kenapa cara pandang ini begitu digandrungi Gen Z? Yuk, kita bahas satu per satu!

alih membeli barang material.Melansir HuffPost, Julie Guntrip, Head of Financial Wellness di Jenius Bank, menjelaskan bahwa memory investing berarti mengalokasikan uang untuk pengalaman yang melekat dalam ingatan, seperti perjalanan atau petualangan bersama keluarga, bukan sekadar membeli barang yang nilainya bisa menurun seiring waktu.

Secara sederhana, memory investing adalah tentang memilih pengalaman yang memberi nilai emosional dibanding kepuasan instan dari barang. Dalam jangka panjang, pengalaman seperti ini cenderung lebih diingat dan memberi dampak positif pada kebahagiaan seseorang.

Manfaat memory investing untuk kebahagiaan dan relasi sosial/

tahun kemudian. Inilah yang membuat memory investing terasa lebih worth it secara emosional.

Memory investing juga membantu kita membangun koneksi sosial yang jauh lebih kuat dan bermakna. Pengalaman yang dilakukan bersama orang tersayang menciptakan ikatan emosional yang sulit digantikan oleh pemberian barang fisik. Hal ini juga membentuk identitas diri yang lebih kaya karena pengalaman memberikan kita perspektif baru, keberanian, dan cerita hidup yang unik.

Memory investing tetap memiliki celah yang harus diwaspadai jika tidak dilakukan dengan perencanaan yang matang. Kekurangan utamanya adalah risiko terjebak dalam perilaku impulsif dengan dalih mencari pengalaman. Tanpa manajemen keuangan yang ketat, pola pikir ini bisa menjadi bumerang yang justru merusak stabilitas finansialkita di masa depan karena melupakan kebutuhan dasar.

masa sulit atau masa pensiun nanti.

benar memberi nilai emosional, seperti quality time dengan keluarga atau eksplorasi hobi baru.

benar hadir dan menikmati momen tersebut tanpa terganggu oleh distraksi digital. Dengan perencanaan yang matang, kita tetap bisa menabung untuk masa tua sekaligus mengoleksi momen-momen indah yang membuat hidup terasa jauh lebih bermakna.

Uang hanyalah alat dan bagaimana kita menggunakannya akan menentukan seberapa kaya cerita hidup yang kita miliki di masa depan nanti. Yuk, kita mulai berinvestasi pada waktu dan kenangan! Karena bisa jadi, investasi terbaik bukan apa yang terlihat di rekening, tapi apa yang tersimpan dalam ingatan.

Rekomendasi Terkait