Bisnis 05 May 2026

Rupiah Melemah ke Rp 17.395 Meski Surplus Neraca Dagang US$3,32 Miliar di Maret 2026 Diumumkan Pemerintah

Rupiah Melemah ke Rp 17.395 Meski Surplus Neraca Dagang US$3,32 Miliar di Maret 2026 Diumumkan Pemerintah

PLAZNEWS — Jakarta, VIVA Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.368 pada Senin, 4 Mei 2026. Posisi rupiah itu menguat 10 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.378 pada perdagangan Kamis, 30 April 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 5 Mei 2026 hingga pukul 09.02 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.395 per dolar AS. Posisi itu melemah 2 poin atau 0,01 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.393 per dolar AS.

Ilustrasi rupiah melemah. Photo : ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 surplus US$3,32 miliar, naik dibandingkan catatan pada Februari 2026 yang senilai US$ 1,27 miliar.

Kondisi surplus itu disebabkan nilai ekspor sebesar US$22,53 miliar atauturun 3,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan impor US$19,21 miliar atau tumbuh 1,51 persen. Sebagai catatan, ini adalah surplus dalam 71 bulan beruntun sejak Mei 2020.

migas sebesar US$5,21 miliar. Komoditas penyumbang terutama minyak dan lemak hewan nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja. Komoditas migas defisit US$1,89 miliardengan komoditas penyumbang defisit minyak mentah, hasil minyak, dan gas.

Maret 2026 mencapai surplus US$5,55 miliar. Surplus Januari-Maret ditopang oleh komoditas non-migas US$10,63 miliar. Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit US$ 5,08 miliar.

Kemudian, aktivitas manufaktur Indonesia semakin tergerus dampak perang hingga mengalami kontraksi. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, mmenunjukkan PMI Indonesia berada di49,1 pada April 2026.

Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi. PMI mengalami kontraksi karena terjadi penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada awal kuartal kedua 2026 karena sejumlah faktor.

turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat dibandingkan Maret dan menjadi yang tercepat sejak Mei tahun lalu.

Rekomendasi Terkait