PLAZNEWS — Hai Phong, VIVAPerkembangan motor listrik di Indonesia tidak lagi terkendala dari sisi teknologi. Produk yang ditawarkan saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan harian, mulai dari jarak tempuh, performa, hingga fitur yang semakin modern.
Namun di balik itu, tantangan terbesar justru datang dari aspek yang lebih mendasar, yaitu pembiayaan. Banyak calon konsumen masih mengandalkan skema kredit untuk membeli kendaraan, termasuk motor listrik.
Hal ini juga disadari olehVinFastyang tengah bersiap masuk lebih dalam ke pasar Indonesia. Perusahaan melihat bahwa faktor leasing menjadi salah satu kunci penting dalam menentukan keberhasilan penjualan.
Scooter,Yordan Satriadi, mengungkapkan bahwa mayoritas konsumen di Indonesia membeli kendaraan dengan cara mencicil. Kita tahu bahwa konsumen Indonesia itu hampir 6070 persen membeli kendaraan dengan kredit, ujarnya beberapa waktu lalu di Vietnam.
Artinya, tanpa dukungan pembiayaan yang kuat, penetrasi motor listrik akan sulit berkembang cepat. Bahkan, harga yang kompetitif sekalipun belum tentu cukup jika akses kredit masih terbatas.
hati terhadap produk baru. Motor listrik dinilai memiliki risiko berbeda dibanding kendaraan konvensional yang sudah lama dikenal pasar.
Untuk menjawab hal tersebut, VinFast mengaku aktif menjalin komunikasi dengan berbagai perusahaan leasing. Langkah ini dilakukan untuk memastikan skema pembiayaan bisa tersedia sejak awal peluncuran produk.
Kita sudah datang ke banyak leasing dan sekarang beberapa sudah mulai proses kerja sama, kata Yordan. Dengan begitu, diharapkan konsumen tidak mengalami kesulitan saat ingin membeli.
Selain itu, perusahaan juga menyiapkan pendekatan yang bisa menarik minat pihak pembiayaan. Meski detailnya belum diungkap, strategi ini disebut menjadi bagian penting dari ekspansi mereka di Indonesia.
Jika ekosistem pembiayaan bisa berjalan dengan baik, potensi pertumbuhan motor listrik dinilai akan semakin besar. Konsumen pun memiliki lebih banyak pilihan tanpa harus terbebani pembayaran di awal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Faktor akses pembiayaan justru menjadi penentu utama dalam mendorong adopsi di pasar Indonesia.