PLAZNEWS — Pasangan selebriti Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar masih terpikat bisnis di Malang Raya. Kini, mereka memadukan konsep farm (unsur pertanian, perkebunan dan peternakan) dalam bisnis oleh-oleh miliknya. Lahan sekitar 1 Ha di Jalan Ir. Soekarno Mojorejo di Kota Batu disulap menjadi destinasi wisata keluarga lengkap dengan mini farm, live kitchen, cafe serta pusat oleh-oleh dan produk UMKM.
blakan mengakui bahwa perjalanan menjadi seorang pebisnis tidaklah semudah yang dibayangkan. Berbagai tantangan dan jatuh bangun telah ia alami sejak awal merintis usaha, namun ia menyambut baik perkembangan wisata baru yang ia bangun di Batu saat ini.
Wisatawan bersama keluarga dapat menikmati hamparan lapangan rumput hijau, bercengkerama dengan hewan ternak, sekaligus penjelasan edukasi dari para pemandu wisata. Pengunjung pun dapat melihat proses produksi strudel secara langsung di live kitchen.
anak.
"Karena sebelumnya pernah berbisnis, saya bisnis itu pertama kali di bidang farming. Saya buka restauran sushi sama temen-temen di Jakarta Selatan, di Kebayoran Baru. Sejak saat itu saya kepikiran, seru juga ya bisnis," ungkap Teuku Wisnu didampingi Shireen Sungkar, Sabtu (2/5).
(Vidi Aldiano meninggal dunia setelah 6 tahun berjuang lawan kanker.)
Baik Teuku Wisnu maupun Shireen Sungkar mengaku memilih Malang Raya, khususnya Kota Batu menjadi tujuan bisnis yang dinilai masih cukup menjanjikan, apalagi dengan bisnis sebelumnya yang juga membuahkan keberhasilan.
"Ada beberapa faktor, kita tidak bisa pungkiri juga Malang Raya, terutama Batu, itu traffiknya cukup tinggi ya. Banyak orang yang ke sini, baik orang-orang Jawa Timur, Jawa Barat, tadi kita ketemu tamu dari Tasikmalaya, bahkan Sumatera ke sini juga. Jadi kita melihat pasar cukup tinggi," ungkapnya.
oleh untuk kerabat dan keluarga. Tingginya wisatawan ke Batu dan sekitarnya harus dilengkapi dengan bisnis pendukung, termasuk oleh-oleh khas.
"Orang Indonesia kayaknya kurang lengkap tanpa beli oleh-oleh. Contoh kalau kita umroh itu penjualnya orang Arab, tapi bisa bahasa Indonesia. Artinya dia tahu pasar, orang Indonesia itu suka cari oleh-oleh. Makanya di sini kita melihat bahwa orang Indonesia itu kurang lengkap kalau tidak membawa oleh-oleh," sambungnya.
buahan yang populer di Eropa khususnya di Austria. Kemudian berusaha dikemas dengan nuansa baru dengan paduan potensi lokal.
"Ini versi Indonesianya, sehingga ini bisa diterima masyarakat banyak. Pastinya ada varian apel, jadi sentuhan Malang itu kental, apel, nanas dan lain sebagainya," jelasnya.
kecilan di Kawasan Singosari, Kabupaten Malang terus berkembang dengan membuka beberapa cabang. Saat ini dibuka cabang di Batu dengan konsep wisata keluarga memadukan beberapa unsur fasilitas pelengkap.
19. Bisnis yang berbasis wisata saat itu tidak dapat bergerak karena larangan menerima kunjungan, sementara tetap harus membayar karyawan dan menanggung operasional.
"Dari bisnis farming yang di Jakarta itu saya bisnis yang lain, tapi ada gagal beberapa kali gitu. Memang tidak semudah itu juga. Bagaimana kita mengeksekusi suatu bisnis," ungkapnya.
"Habis sampai jual apapun yang bisa kami jual, sampai jual kasur, kami jual. Malang Strudel jual kasur, gimana? Kenapa? Buat gaji karyawan," ungkapnya tertawa.
Baginya bisnis itu bukan sekadar pembukaan, tetapi proses panjang yang harus dilalui berikut persoalannya. Tidak sekadar yang terlihat di mata masyarakat, tetapi di balik itu harus menjalankan roda perusahaan.
"Bukan sekadar di awal, kalau kita memperkenalkan dengan engagement yang kita punya dengan potensi yang kita punya sebagai influencer, publik figur, di depan ok, tapi bahwa bisnis itu tidak hanya di depan. Perjalanannya panjang, banyak sekali yang diperhatikan, bagaimana supply bahan-bahan yang kita butuhkan produksi kita, operation, marketingnya juga. banyak yang harus kita pikirkan," jelasnya.
1. Mengapa Teuku Wisnu mengakui tidak mudah menjadi pebisnis? Teuku Wisnu mengakui tidak mudah menjadi pebisnis karena ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kurangnya pengetahuan awal, kerugian dalam bisnis properti, hingga dampak drastis pandemi COVID-19 pada usahanya.
19 terhadap bisnis Malang Strudel milik Teuku Wisnu? Pandemi COVID-19 menyebabkan omzet Malang Strudel turun drastis hingga 70-80 persen, dan hanya dua dari sepuluh tokonya yang masih beroperasi, membuatnya harus berjuang keras agar tidak bangkrut.
3. Apa inovasi yang dilakukan Teuku Wisnu untuk menghadapi tantangan bisnisnya? Teuku Wisnu melakukan inovasi dengan beralih ke penjualan online, tidak hanya menyasar wisatawan tetapi juga warga setempat, serta mengembangkan varian produk baru seperti Malang Strudel Premium dan varian rasa lainnya.
(Lama tak terdengar kabarnya, komedian senior Diding Boneng dilarikan ke Rumah Sakit.)