PLAZNEWS — sebut akan memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global.
an.
Situasi tersebut mendapat perhatian serius dari pelaku industri energi global. Salah satunya datang dari perusahaan minyak raksasa asal Amerika Serikat, Chevron.
Pimpinan perusahaan itu memperingatkan bahwa dampak dari penutupan Selat Hormuz tidak hanya bersifat sementara, melainkan dapat memicu kelangkaan minyak secara fisik di berbagai belahan dunia.
Chairman dan CEO Chevron, Mike Wirth, menyampaikan pandangannya dalam sebuah diskusi. Ia menegaskan bahwa situasi saat ini sangat serius, terutama karena sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global melewati jalur tersebut.
"Kita akan mulai melihat kelangkaan fisik," kata Wirth, sebagaimana dikutip dari Reuters, Selasa, 5 Mei 2026.
Menurut Wirth, cadangan minyak yang sebelumnya menjadi penyangga kini mulai terkuras untuk memenuhi kebutuhan pasar. Hal ini membuat keseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi terganggu secara signifikan.
"Permintaan harus menyesuaikan dengan pasokan," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penyesuaian permintaan terhadap pasokan yang terbatas akan berdampak langsung pada perlambatan ekonomi global. Kawasan Asia disebut sebagai wilayah pertama yang akan merasakan dampak paling besar, mengingat ketergantungannya terhadap minyak dari kawasan Teluk.
Setelah Asia, Eropa diperkirakan akan menjadi kawasan berikutnya yang terdampak. Sementara itu, Amerika Serikat dinilai relatif lebih tahan karena merupakan eksportir bersih minyak mentah.
Meski demikian, Wirth menegaskan bahwa dampak tersebut tetap akan terasa secara bertahap. Sebagai gambaran, ia menyebut bahwa pengiriman minyak terakhir dari kawasan Teluk saat ini sedang dibongkar di Pelabuhan Long Beach, yang memasok kebutuhan energi untuk Los Angeles dan wilayah California Selatan.
an. "Dampak keseluruhan dari penutupan Hormuz berpotensi sebesar yang terjadi pada tahun 1970-an," kata Wirth.