PLAZNEWS — Jakarta, VIVA Mata uang Thailand, baht, menjadi salah satu kinerja terburuk di Asia sejak meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak global. Tekanan terhadap baht diperkirakan masih berlanjut seiring besarnya ketergantungan Thailand pada impor energi.
Sejak konflik Iran mulai memanas, baht telah melemah lebih dari 4 persen terhadap dolar AS. Dalam periode yang sama, baht juga turun sekitar 3,4 persen terhadap dolar Singapura. Ini menjadikan baht sebagai salah satu mata uang dengan performa terlemah di kawasan Asia, hanya lebih baik dari peso Filipina.
Analis menilai, kondisi ini terjadi karena struktur ekonomi Thailand yang sangat rentan terhadap kenaikan harga energi global. Defisit perdagangan minyak dan gas yang besar, membuat negara ini lebih mudah tertekan saat harga minyak naik.
Kami masih melihat risiko pelemahan untuk baht karena Thailand memiliki defisit perdagangan minyak dan gas bersih terbesar di Asia, ujar Lloyd Chan, analis valuta asing MUFG Bank di Singapura, sebagaimana dikutip dari The Straits Times, Senin, 27 April 2026.
Ia juga menyoroti bahwa gangguan pasokan energi global masih berlanjut akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah. Blokade AS terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung, dan ini akan terus mengganggu aliran energi, tambahnya.
Tekanan terhadap baht sempat mereda pada awal April setelah adanya kabar gencatan senjata antara AS dan Iran. Namun, pelemahan kembali terjadi setelah negosiasi kedua pihak kembali menemui kebuntuan.
bank besar memperkirakan baht masih berpotensi melemah lebih lanjut. MUFG Bank memperkirakan baht bisa turun ke level 33,90 per dolar AS pada kuartal ini, yang merupakan level terlemah sejak April 2025.
Sementara itu, Maybank menyebutkan bahwa pola musiman neraca transaksi berjalan Thailand juga akan memberikan tekanan tambahan pada mata uang tersebut di kuartal kedua.
hati terhadap baht pada kuartal kedua karena kenaikan harga minyak dan penyempitan neraca transaksi berjalan secara musiman, kata Alan Lau, analis Maybank di Singapura.
Tekanan terhadap ekonomi Thailand juga terlihat dari revisi proyeksi pertumbuhan. Bank of Thailand memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa melambat menjadi sekitar 1,3 persen pada 2026 jika konflik berkepanjangan, lebih rendah dari estimasi sebelum konflik yang berada di level 1,9 persen.