Bisnis 06 May 2026

Harga Minyak Dunia di Kisaran US$90-US$120 Per Barel, Airlangga Ungkap Ragam Skenario Pemerintah

Harga Minyak Dunia di Kisaran US$90-US$120 Per Barel, Airlangga Ungkap Ragam Skenario Pemerintah

PLAZNEWS — Jakarta, VIVA Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, saat ini pergerakan harga minyak dunia berada di kisaran US$90-US$120 per barel, dan masih dipengaruhi kondisi global.

Karenanya, pemerintah pun menyiapkan berbagai skenario untuk menjaga stabilitas sektor energi, di tengah dinamika harga minyak global tersebut.

"Kelihatannya harga (minyak) itu di range US$90 sampai US$120 per barel, sesudah itu dia turun lagi ke sekitar 100, kata Airlangga di Kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Selasa malam, 5 Mei 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto Photo : [Mohammad Yudha Prasetya]

"Untuk BBM kita masih monitor karena harga minyak dunia ini bergerak dinamis," ujarnya.

Airlangga mengatakan, fluktuasi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, termasuk ketegangan geopolitik yang membuat harga energi sulit diprediksi. Dia menegaskan, pemerintah tidak menetapkan satu skenario tetap, melainkan menyiapkan kebijakan yang fleksibel sesuai perkembangan situasi.

Yang penting kita punya skenario untuk menjaga dan skenario ini sifatnya dinamis, kata Airlangga.

rata harga pembelian.

Pendekatan tersebut dinilai membantu menjaga beban subsidi energi tetap terkendali di tengah fluktuasi harga minyak dunia. Di sisi fiskal, pemerintah juga mengalokasikan subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026 untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi.

Selain itu, lanjut Airlangga, pemerintah juga mendorong penguatan energi domestik melalui implementasi program biodiesel dan energi baru terbarukan (EBT).

Implementasi B50 pada 1 Juli nanti dan akselerasi program EBT diharapkan bisa menghemat pembelian diesel atau solar sebesar Rp48 triliun, ujar Airlangga.

Menurutnya, pengembangan energi alternatif menjadi bagian penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor. Selain menjaga harga dan pasokan, pemerintah juga menyiapkan kebijakan untuk mendukung ketersediaan energi, termasuk melalui penyesuaian kebijakan perdagangan.

"Salah satu langkah yang disiapkan adalah penurunan bea masuk impor LPG, guna menjaga pasokan energi di dalam negeri. Beberapa langkah yang disiapkan adalah penurunan bea masuk impor LPG menjadi 0 persen dari 5 persen," ujarnya. (Ant).

Rekomendasi Terkait