Bisnis 02 May 2026

Harga Minyak Global Terus Meroket Imbas Konflik Iran-AS, Prediksi Tembus Segini

Harga Minyak Global Terus Meroket Imbas Konflik Iran-AS, Prediksi Tembus Segini

PLAZNEWS — Jakarta, VIVA Gejolak harga minyak dunia kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, membuat pasar energi berada dalam tekanan, dengan potensi lonjakan harga yang masih terbuka lebar sepanjang 2026.

hati. Jalur distribusi energi strategis seperti Selat Hormuz menjadi faktor krusial yang memengaruhi pergerakan harga minyak dunia saat ini.

Laporan dari CNBC menyebutkan bahwa harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan belum mencapai puncaknya tahun ini. Para trader di platform prediction market Kalshi bahkan melihat peluang besar adanya lonjakan harga lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Berdasarkan proyeksi tersebut, terdapat kemungkinan lebih dari 50 persen harga minyak akan mencapai hampir US$127 per barel atau setara Rp2.159.000 per barel. Angka ini jauh melampaui harga penutupan tertinggi sebelumnya yang berada di kisaran US$113 per barel atau sekitar Rp1.921.000 per barel pada awal April.

Selain itu, peluang harga menembus US$120 per barel atau sekitar Rp2.040.000 juga cukup besar, dengan estimasi mencapai 63 persen.

Saat ini, harga minyak masih berada di atas US$100 per barel atau sekitar Rp1.700.000. Bahkan, minyak Brent sempat mencetak level tertinggi baru pascakonflik. Namun, harga sempat mengalami koreksi setelah Iran mengajukan proposal perdamaian terbaru kepada Amerika Serikat.

Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi pasar. Hingga kini, belum ada kejelasan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz maupun kemungkinan berakhirnya blokade laut oleh Amerika Serikat.

Kondisi ini membuat sebagian penurunan harga minyak setelah gencatan senjata kembali berbalik naik. Menariknya, ekspektasi pasar terhadap skenario ekstrem mulai menurun.

Pada awal April, sebelum gencatan senjata diumumkan, peluang harga minyak menembus US$150 per barel atau setara Rp2.550.000 diperkirakan lebih dari 50 persen. Kini, peluang tersebut turun menjadi sekitar 26 persen.

Penurunan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap perkembangan situasi geopolitik. Meski begitu, selama konflik belum sepenuhnya mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi.

Rekomendasi Terkait