Jawa Barat 05 May 2026

Jabar masuk era populasi menua seiring angka kelahiran menyusut

Jabar masuk era populasi menua seiring angka kelahiran menyusut

PLAZNEWS — Provinsi Jawa Barat (Jabar) resmi memasuki fase populasi menua (aging population) seiring dengan penyusutan Angka Kelahiran Yotal (TFR) hingga di bawah tingkat penggantian (replacement level), di tengah tren perbaikan ketimpangan gender yang kian signifikan.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, jumlah penduduk Jabar tercatat sebanyak 50,94 juta jiwa. Namundi balik pertumbuhan 1,12 persen sejak 2020 tersebutterjadi pergeseran demografi yang mencolok dengan persentase penduduk lanjut usia (60 tahun ke atas)kini menembus 11,51 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) JabarMargaretha Ari Anggorowati di Bandung, Selasa, mengungkapkan TFRJabar kini berada di level 2,05. Angka ini secara teknis telah berada di bawah ambang batas tingkat penggantian sebesar 2,1.

rata terdapat dua kelahiran dari perempuan usia 15-49 tahun semasa hidupnya. Hal ini terutama didorong oleh tingkat kelahiran pada perempuan di kelompok umur 15-19 dan 20-24 yang menurun signifikan.

sementara Kabupaten Garut masih menjadi yang tertinggi (2,32).

wilayah.

Meski dihantui fenomena penduduk menua, kualitas kesehatan bayi menunjukkan lompatan besar. Angka Kematian Bayi (IMR) kini berada di level 12,84 per 1.000 kelahiran hidup, atau turun lebih dari setengahnya dibandingkan data SP2010.

Saat inistruktur kependudukan Jabar masih didominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun) sebesar 69,75 persen, dengan mayoritas berasal dari Gen Z (25,22 persen) dan Milenial (24,76 persen).

menjadi peringatan dini bagi pemerintah daerah (pemda).

"Angka kematian terus menurun, tetapi masih dihadapkan pada tantangan disparitas antarkabupaten/kota. Perlu dipertimbangkan kebijakan yang mengedepankan keseimbangan antar-wilayah," kata Ari.

Ia juga menekankan pentingnya pembangunan pusat ekonomi baru untuk menekan ketimpangan migrasi di Jawa Barat.

Di sisi lain, BPS mencatat kabar positif dari dimensi sosial melalui perbaikan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) 2025 yang mencapai 0,434atau turun 0,024 poin dari tahun sebelumnya. Penurunan ini menandakan kesenjangan laki-laki dan perempuan di pasar tenaga kerja dan kesehatan reproduksi semakin mengecil.

"Angka IKGJabar sejak 2022 membaik secara signifikan. Namun demikian ketimpangan gender di Jabar masih cukup lebar, namun semakin membaik," kata Ari.

Kota Tasikmalaya menjadi "bintang" dalam urusan kesetaraan dengan penurunan ketimpangan terdalam sebesar 0,151 poin. Sebaliknya, Kabupaten Sumedang justru mengalami kenaikan ketimpangan tertinggi akibat penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan.

Rekomendasi Terkait