Bisnis 01 May 2026

LPEM FEB UI: Pindar Jadi Bantalan Warga RI Hadapi Tekanan Ekonomi

LPEM FEB UI: Pindar Jadi Bantalan Warga RI Hadapi Tekanan Ekonomi

PLAZNEWS — Jakarta, VIVA Keberadaan pinjaman daring (pindar) di masyarakat bak dua sisi mata uang. Layanan pembiayaan ini dipandang sebagai jebakan finansial akibat bunga yang tinggi sementara sisi lain menunjukkan peran krusial sebagai bantalan ekonomi yang membantu masyarakat bertahan di tengah tekanan.

Pindar atau yang populer dikenal pinjaman online (pinjol) menawarkan waktu pencairan instan dan syarat administrasi yang lebih mudah dibandingkan bank konvensional. Mirisnya, para debitur kerap persentasi bunga yang relatif tinggi sehingga tidak sedikit pengguna terjebak dalam siklus utang yang justru memperburuk kondisi finansial.

Sementara itu, riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkap pindar dapat berfungsi sebagai bantalan ekonomi bagi masyarakat dalam menghadapi tekanan ekonomi. Dalam penelitian ini, LPEM FEB UI mengkaji AdaKami sebagai studi kasus untuk menelaah peran pindar.

Studi ini mengungkap, pindar berperan menjadi bantalan keuangan yang membantu masyarakat dalam mengelola risiko keuangan dan menjaga konsumsi rumah tangga. Akses pembiayaan digital membantu rumah tangga menjaga konsumsi, mengelola risiko keuangan, serta menghindari penjualan aset produktif di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian.

Terjaganya konsumsi rumah tangga sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) jelas memberikan efek positif terhadap perekonomian Indonesia.

Peneliti LPEM FEB UI, Prani Sastiono, menyampaikan terdapat 24,51 persen peminjam AdaKami menyatakan tanpa adanya pinjaman, mereka harus menggunakan tabungan atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan. Pinjaman ini juga dimanfaatkan untuk menghadapi kondisi guncangan ekonomi akibat PHK, sakit keras, maupun wafatnya anggota keluarga dengan tetap melakukan pengelolaan risiko secara bijak.

"Dengan pengelolaan risiko yang lebih baik, maka rumah tangga yang menghadapi pengeluaran tidak terduga tidak harus meminjam pada rentenir atau sumber lain dengan bunga lebih tinggi dan bisa menjaga kestabilan tabungan," ujar Prani Sastiono dikutip dari keterangan tertulis Jumat, 1 Mei 2026.

sakit keras, hingga wafatnya anggota keluarga. Aakses pembiayaan ini juga dinilai membantu masyarakat menghindari keputusan ekstrem yang dapat berdampak jangka panjang.

Rekomendasi Terkait