PLAZNEWS — Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat (Jabar) mengungkapkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu pengungkit ekonomi di Jabar pada triwulan I tahun 2026 yang melaju 5,79 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Kepala BPS Provinsi JabarMargaretha Ari Anggorowati menjelaskan besarnya penduduk mengakibatkan volume program unggulan Presiden Prabowo ini di wilayah Jabar juga besar dan ikut memutar roda perekonomian, dari serapan suplai bahan baku pertanian, peternakan, hingga tenaga kerja.
"MBG di Jawa Barat jumlahnya besar, otomatis juga MBG besar dan ikut memutar gerak ekonomi di Jabar dari suplai pertanian dan lain-lain serta tenaga kerja akhirnya ketarik semua," ujar Ari di Gedung BPS Jabar, Bandung, Selasa.
Lebih lanjut, Ari menyebutkan realisasi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,79 persen ini tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,61 persen pada periode yang sama.
Jika dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2025, ekonomi Jawa Barat tumbuh positif 0,24 persen antar kuartal (qtq).
"Kinerja ekonomi Triwulan I 2026 didorong oleh beberapa faktor kunci, di antaranya peningkatan mobilitas masyarakat yang mencapai 56,54 juta perjalanan wisatawan nusantara akibat momen Ramadhan dan Idul Fitri," kata Ari.
Secara struktur dari sisi lapangan usaha, sektor Industri Pengolahan mendominasi sebesar 39,60 persen, perdagangan sebesar 14,21 persen, pertanian 9,22 persen, konstruksi 8,14 persen, dan transportasi 6,84 persen.
minuman sebesar 0,51 persen, dan perdagangan sebesar 0,45 persen.
Sementara struktur dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi motor penggerak utama sebesar 65,22 persen, disusul oleh investasi fisik (Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB) sebesar 23,92 persen, konsumsi pemerintah sebesar 5,16 persen, net ekspor sebesar 4,96 persen, dan konsumsi LNPRT (Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga) sebesar 0,69 persen.
Sumber pertumbuhan atau andil tertinggi dari sisi pengeluaran disumbang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 3,27 persen, konsumsi pemerintah sebesar 1,82 persen, PMTB sebesar 1,06 persen, dan konsumsi LNPRT sebesar 0,04 persen.
Berdasarkan pulau, kontribusi pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa mendominasi sebesar 57,24 persen dari total nasional, diikuti Pulau Sumatera sebesar 22,07 persen, Pulau Kalimantan 7,99 persen, Pulau Sulawesi 7,12 persen, Pulau Bali & Nusa Tenggara 2,80 persen, dan Pulau Maluku & Papua 2,77 persen.
Di Pulau Jawa, pertumbuhan ekonomi secara tahunan (yoy) tertinggi terjadi di Jawa Timur sebesar 5,96 persen, diikuti Jawa Tengah sebesar 5,89 persen, DI Yogyakarta sebesar 5,84 persen, Jawa Barat sebesar 5,79 persen, DKI Jakarta sebesar 5,59 persen, dan Banten sebesar 5,64 persen.
Pertumbuhan ekonomi berjalan meningkat ini, kata Ari, selaras dengan semua upaya yang dilakukan berbagai pihak untuk beradaptasi dengan kondisi global sehingga perekonomian bisa terus berjalan.
"Dan kita bisa melihat potensi-potensi dari berbagai sektor yang ada di Jabar yang kita harap bisa mendukung lebih kuat lagi," tuturnya.