Jawa Barat 26 Apr 2026

Pedasnya rujak khas Cirebon menghantarkan harapan pergi haji ke Tanah Suci

Pedasnya rujak khas Cirebon menghantarkan harapan pergi haji ke Tanah Suci

PLAZNEWS — Sengatan cabai rawit dalam sepiring rujak ulek khas Cirebon mungkin bisa menyiksa lidah saat disantap, namun bagi Machmudah (62), rasa pedas itulah yang telah melapangkan jalannya menuju Tanah Suci.

Perempuan asal Desa Marikangen, Cirebon, Jawa Barat, tersebut sudah puluhan tahun menjajakan rujak ulek di dekat rumahnya. Celemek merah polkadot yang melekat di tubuhnya menjadi saksi bisu perjuangannya.

Jalan menuju Makkah, Arab Saudi, bukan ia tempuh dari ruang berpendingin atau meja kerja yang rapi, melainkan dari kios beratap seng dengan luas bangunan sempit.

Di tempat itulah, Machmudah memendam asa sakral yang sudah lama didambakan, yakni berangkat haji dengan uang hasil jerih payahnya sendiri.

ia tengah sibuk meracik bumbu, menyiangi sayuran, dan menyiapkan pesanan pelanggan yang datang silih berganti.

Tangannya cekatan memilih bahan. Sesekali ia menunduk, memastikan setiap racikan pas seperti yang diinginkan pembeli.

Wajahnya terlihat serius, tetapi menyimpan ketenangan khas orang yang sudah lama berdamai dengan kerja keras.

Pagi hari menjadi awal rutinitasnya. Seusai menunaikan shalat Subuh berjamaah, ia sarapan sebentar, lalu mulai menyiapkan sayur dan bumbu dagangan.

Sekitar pukul 08.00 WIB, tangan Machmudah sudah sibuk memilah bahan. Menjelang pukul 09.00 WIB, nasi diturunkan ke bawah, lalu rujak ditata rapi untuk menyambut pembeli.

tahun.

benar siap, orang sudah datang lebih dulu. Bahkan sebelum tengah hari, rujaknya kerap habis sehingga ia harus kembali mengulek untuk memenuhi pesanan.

Kadang rujaknya belum matang, sudah ada orang beli. Kadang jam 11 siang sudah habis, bikin lagi. Orang jualan itu rezekinya, Allah yang ngatur.Jadi kita menerima apa adanya, katanya.

Baginya, berjualan rujak ulek melampaui urusan dapur yang harus tetap mengepul. Lewat cobek dan ulekan itulah, ongkos menuju Baitullah dikumpulkan perlahan. Nilainya memang tak besar, tetapi terus bertambah seiring waktu.

Ada kalanya ia hanya mampu menyimpan Rp30 ribu. Pada hari lain, jumlahnya bisa mencapai Rp50 ribu, bahkan lebih saat pelanggan ramai.

Angka tersebut tampak kecil, namun bila dijaga dengan sabar, receh pun mampu membuka jalan. Maka, paling penting baginya adalah terus menyimpan.

Uang belanja yang tersisa, laba kecil, hingga hasil ramai pada hari tertentu, semuanya masuk ke tabungan.

Pasti nabung, seadanya. Pokoknya ada aja, ujarnya sambil tersenyum.

Ia pernah pula mengikuti arisan mingguan sebesar Rp300 ribu agar simpanannya lebih terjaga. Cara itu membuatnya lebih disiplin.

Hampir 16 tahun lamanya ia menyisihkan rezeki. Sedikit demi sedikit, tabungan terus bertambah sampai akhirnya cukup untuk pelunasan biaya haji pada 2025.

Keinginan berhaji telah lama bersemayam di hati kecilnya. Setiap kali melihat orang berangkat ke Makkah, dadanya selalu dipenuhi haru.

Kalau ada orang berangkat tuh, hati rasanya keluar air, mata juga keluar air. Ya Allah, kapan kita bisa ke sana? tuturnya pelan.

benar pergi.

sungguh akan menemukan jalannya sendiri. Oleh karena itu, ia memilih terus bekerja, bukan mengeluh.

Selama tangan masih kuat mengulek, kaki mampu berdiri, ia merasa belum waktunya berhenti.

Banyak orang seusianya memilih duduk tenang di rumah. Machmudah justru menganggap terlalu lama berdiam hanya mendekatkan tubuh pada rasa sakit.

Bekerja, baginya, bukan semata mencari uang. Aktivitas tersebut pun menjadi cara menjaga badan tetap kuat dan pikiran selalu terang.

Kalau jualan kan sehat, pikirannya normal, uangnya ada, jadi enggak pernah cemas, katanya sembari tertawa.

doa pendek terus mengalir. Kalimat itu dilafalkan pelan, karena setiap zikir menjadi langkah kecil yang mendekatkannya ke Tanah Suci.

Kini saat usianya menginjak 62 tahun, penantian panjang itu tinggal menghitung hari. Pada 19 Mei 2026, Machmudah dijadwalkan berangkat menunaikan ibadah haji.

Ia menjadi satu dari total 2.576 calon haji asal Cirebon, yang siap diberangkatkan ke Makkah melalui Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

Spanduk walimatus safar haji sudah terpasang di rumahnya, lengkap dengan foto dirinya berlatar Ka'bah.

Kontras memang, namun pemandangan itu menghadirkan rasa haru yang sulit disembunyikan.

Tangan yang setiap hari akrab dengan bahan rujak ulek, sebentar lagi akan terangkat dalam doa di depan Baitullah.

obatan, perlengkapan mandi, alat mencuci, semua disusun satu per satu. Namun ada benda yang selalu ia sebut paling penting, yakni tasbih untuk menjaga zikir tetap hidup.

Nomor satu tasbih. Jangan putus berzikir. Sekarang juga disuruh istigfar 1.000 kali, selawat 1.000 kali setiap hari, ujarnya.

Machmudah akhirnya membuktikan satu hal yang sering dianggap mustahil. Jalan menuju Makkah bisa lahir dari tangan seorang perempuanyang setia bekerja sambil menjaga asa sepanjang usia.

Berjarak sekira 13 km dari kediaman Machmudah, kisah soal pedagang rujak yang bisa pergi haji pun datang dari wilayah Kota Cirebon, tepatnya di sebuah lapak di Jalan Evakuasi.

Lapak tersebut dijadikan tempat berjualan oleh perempuan bernama Istoifah (57). Ia berdagang rujak buah, karedok, sambal asam, hingga gorengan untuk menyambung nasib sejak 1997.

Wajah penjual rujak itu tampak terpejam, tangan terkatup rapat, seperti menahan harap yang tak ingin tumpah sebelum waktunya.

Namanya jualan, kadang ramai dan bisa juga sepi, kata Istoifah saat ditemui di warungnya.

Dari lapak tersebut, ia menghidupi banyak kepala. Istoifah punya satu anak kandung. Di luar itu, dia menyekolahkan tiga keponakan, membantu empat keponakan lain, dan menanggung dua cucu.

benar utuh untuk dirinya.

Dalam sehari, omzet usahanya bisa mencapai Rp2 juta. Angka tersebut terdengar besar, tetapi ia tahu betul bagaimana uang bekerja.

Modal harus kembali dan kebutuhan rumah tangga tak bisa menunggu. Maka, di sela semua itu, ia menyelipkan tabungan.

Kadang uang disisihkan bisa Rp300 ribu, atau Rp500 ribu. Tidak tetap, tetapi terus dilakukan, katanya.

Adapun keinginan untuk berhaji datang tanpa rencana. Pada suatu sore, hatinya tergerak saat mendengar lantunan selawat dari rombongan orang yang hendak berangkat ke Tanah Suci. Air matanya pun jatuh tanpa bisa dicegah.

Apa saya bisa ke sana? katanya kala mengingat pertanyaan yang sudah menancap di benaknya.

Ia tidak banyak bercerita soal itu, karena keinginan tersebut disimpannya sendiri. Pada 2013, ia memantapkan niat untuk mendaftar haji.

Tabungan yang dikumpulkan kala itu belum besar, namun cukup untuk memulai. Ia sempat mencoba menyimpan uang lewat asuransi.

Seiring waktu, masalah pun datang karena uangnya sempat tertahan. Ia lantas menunggu, tidak dengan amarah, melainkan dengan sabar. Perlahan dana tersebut akhirnya kembali.

Beranjak dari lapak tersebut, pada ruang tamu di rumahnya, ia kini memegang lembar identitas dan namanya tercetak, lengkap dengan tahun keberangkatan yang tertera 2026.

Tangannya mungkin bergetar, tetapi sorot matanya menyimpan sukacita yang tak bisa disembunyikan.

Di sudut lain, koper terbuka dan pakaian dilipat rapi. Ia menegaskan persiapan untuk berangkat haji tak melulu soal barang, namun menyiapkan hati agar terus ikhlas dan tawakal.

Istoifah tahu betul, hidup tak selalu memberi jalan yang lurus. Namun ia percaya, selama langkah dijaga, niat dirawat, dan usaha tak berhenti, selalu ada kesempatan untuk pergi ke Tanah Suci.

Allah pasti kasih jalan. Seperti saya ini, siapa sangka tukang rujak bisa menyekolahkan keponakan, sampai mau berangkat haji, tuturnya.

Meski Machmudah dan Istoifah masih harus menunggu hingga Mei, geliat persiapan keberangkatan haji sudah mulai terasa di BIJB Kertajati sejak April 2026.

Suasana di bandara tersebut mulai dipenuhi langkah para calon haji yang bersiap menuju Tanah Sucipada Rabu (22/4) pagi.

Wajah haru bercampur bahagia tampak di antara rombongan pertama calon haji asal Jawa Barat, yang akan memulai perjalanan ibadah haji tahun ini.

Hari itu, kloter pertama asal Indramayu resmi diberangkatkan. Jumlahnya 445 orang, terdiri atas 441 calon haji dan empat petugas yang akan mendampingi selama perjalanan ibadah tersebut.

Satu per satu calon haji melewati pemeriksaan akhir, memastikan seluruh dokumen lengkap sebelum masuk ke barisan keberangkatan.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kanwil Kemenhaj) Jawa Barat Boy Hary Novian mengatakan seluruh calon haji yang berangkat, telah melalui pemeriksaan dan dinyatakan dalam kondisi sehat serta layak terbang.

Paspor setiap calon haji pun sudah diaktifkan seluruhnya, sehingga proses keberangkatan berlangsung lancar tanpa hambatan berarti.

Ia menekankan pentingnya koordinasi para petugas, mulai dari ketua regu hingga pendamping kloter, agar seluruh jamaah dapat menjalani ibadah dengan baik dan kembali dalam jumlah yang sama.

Berangkat 445 orang, pulang pun harus 445 orang, ujarnya.

Selain kesiapan keberangkatan, penyelenggaraan ibadah haji juga berkaitan dengan pengelolaan dana yang menjadi perhatian publik.

Keterbukaan informasi dinilai penting, agar masyarakat memahami bagaimana dana tersebut dikelola untuk mendukung layanan haji.

Atas dasar itu, Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina bersama Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menggelar diseminasi UU Nomor 34 Tahun 2014 di Cirebon, Jawa Barat, pada awal Maret 2026.

Kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan literasi publik, tentang tata kelola dana umat yang selama ini dikelola BPKH.

hatian.

Sebagai mitra kerja BPKH, Komisi VIII DPR RI memiliki fungsi pengawasan agar seluruh pengelolaan dana haji berjalan sesuai regulasi dan tidak keluar dari prinsip perlindungan terhadap dana umat.

Selly mengatakan forum tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pertanyaan maupun masukan secara langsung kepada BPKH, sehingga tidak ada lagi keraguan mengenai mekanisme pengelolaan dana haji.

Selain itu, masukan dari peserta kegiatan disebut akan menjadi bahan evaluasi bagi Komisi VIII DPR RI maupun BPKH dalam menyusun kebijakan yang lebih baik ke depan.

Menurutnya, penguatan pemahaman masyarakat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi haji yang saat ini tengah dikembangkan pemerintah agar pelayanan penyelenggaraan ibadah haji semakin baik.

Anggota Badan Pelaksana BPKH Arief Mufraini mengatakan pihaknya tengah mengembangkan penguatan regulasi untuk memperbesar kapasitas pengelolaan dana haji, tanpa mengurangi prinsip transparansi serta tata kelola yang baik.

Penguatan regulasi tersebut penting, agar BPKH memiliki ruang yang lebih luas dalam mengembangkan dana haji dan menciptakan nilai manfaat yang lebih besar bagi jamaah.

BPKH pun menegaskan komitmennya untuk terus mengoptimalkan pengembangan dana haji, baik untuk mendukung operasional haji tahun berjalan maupun peningkatan kualitas layanan pada musim haji berikutnya.

bisa ikut membantu mengoptimalkan pemberian layanan operasional haji, tuturnya.

Pada intinya, layanan haji yang semakin tertata, dukungan operasional keberangkatan kian mantap, serta optimalnya pengelolaan dana umat menjadi ikhtiar bersama agar langkah para calon haji lebih ringan.

Rekomendasi Terkait