Hiburan 04 May 2026

Pengertian Haji Wada dan Sejarah Haji Perpisahan Terakhir Nabi Muhammad SAW

Pengertian Haji Wada dan Sejarah Haji Perpisahan Terakhir Nabi Muhammad SAW

PLAZNEWS — Haji wada (ijjat al-Wada) merupakan peristiwa ibadah haji yang sangat bersejarah dalam Islam, yakni ibadah haji yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun 10 Hijriyah. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu momen paling terdokumentasi dalam kehidupan Rasulullah karena setiap gerak-gerik beliau diamati oleh para sahabat dan menjadi sunnah yang diikuti umat Islam di seluruh dunia.

satunya yang dilaksanakan Nabi Muhammad SAW setelah hijrah ke Madinah, tepatnya pada tahun 632 Masehi. Peristiwa ini disebut "haji perpisahan" karena terjadi di tahun terakhir kehidupan Rasulullah, dan beliau sendiri berpamitan kepada umatnya dalam khutbah yang mengharukan di Padang Arafah.

Menurut Encyclopaedia Britannica, haji wada disebut sebagai "the precedent for all future Muslim pilgrimages" atau preseden bagi seluruh ziarah haji umat Islam di masa mendatang. Ketika Nabi Muhammad mengumumkan niatnya untuk berhaji, sekitar 100.000 sahabat berkumpul di Madinah untuk menunaikan ibadah bersama beliau, dan Nabi melaksanakan jenis Hajj al-Qiran, yaitu haji yang menggabungkan umrah dan haji sekaligus.

Istilah haji wada berasal dari bahasa Arab, "ajjat al-Wada" yang secara harfiah berarti "haji perpisahan". Kata "wada" sendiri merupakan kosakata Arab yang bermakna perpisahan atau pamitan. Pengertian haji wada dalam konteks sejarah Islam merujuk pada ibadah haji yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW pada bulan Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah, yang bertepatan dengan Maret 632 Masehi.

Peristiwa ini dinamai haji perpisahan karena terjadi di tahun terakhir kehidupan Nabi, dan beliau berpamitan kepada umatnya dalam perjalanan tersebut. Haji wada terbukti menjadi kunjungan terakhir Nabi Muhammad ke Mekah, sehingga kemudian dikenal sebagai "Haji Perpisahan". Tidak lama setelah kembali ke Madinah, Rasulullah jatuh sakit dan menghembuskan napas terakhir.

Pada tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah), Nabi Muhammad menyampaikan Khutbah Wada di atas Bukit Arafah. Haji Nabi Muhammad ini mendefinisikan banyak ritual dan tata cara haji yang kemudian ditransmisikan melalui para sahabat dan menjadi preseden yang diikuti umat Islam di seluruh dunia. Melansir dari Liputan6.com, ketika Nabi Muhammad melaksanakan haji pertama sekaligus terakhirnya ini, beliau diiringi oleh sekitar 125.000 umat Muslim.

Para ulama menaruh perhatian besar pada peristiwa haji wada dan menyarikan banyak hukum darinya, baik terkait tata cara haji maupun persoalan lainnya. Nabi SAW sendiri bersabda, "Ambillah tata cara haji dariku." Pelajaran dari pengertian haji wada tidak hanya bersifat ritual, melainkan juga mencakup prinsip-prinsip moral dan sosial yang sangat fundamental bagi kehidupan umat Islam.

masing mencerminkan dimensi berbeda dari ibadah tersebut. Sejumlah ulama bahkan menulis kitab khusus yang membahas haji perpisahan ini secara mendalam. Berikut nama-nama lain haji wada beserta konteks historisnya:

Perjalanan haji wada merupakan rangkaian peristiwa yang sangat terperinci dan menjadi pedoman urutan ibadah haji hingga saat ini. Menurut catatan dalam Encyclopaedia Britannica, haji wada menjadi preseden bagi seluruh pelaksanaan haji umat Islam di masa depan. Berikut kronologi lengkapnya:

Khutbah Wada (Khutbatul Wada) adalah pidato terakhir Nabi Muhammad SAW yang disampaikan pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah di Lembah Uranah, Bukit Arafah. Bukit Arafah, yang juga dikenal sebagai "Jabal Ar-Rahmah" (Gunung Rahmat) dengan ketinggian sekitar 70 meter, menjadi saksi bisu pidato bersejarah tersebut. Imam Ahmad bin Hanbal mencatat versi paling lengkap dari khutbah ini dalam kitab Musnad-nya (hadis no. 19774). Rasulullah membuka pidatonya dengan kalimat yang sangat menyentuh. Terjemahan dari pembukaan khutbah tersebut kurang lebih bermakna, "Wahai manusia! Dengarkanlah perkataanku, karena aku tidak tahu apakah setelah tahun ini aku masih akan bertemu kalian lagi di tempat ini."

prinsip utama Islam dan kewajiban manusia terhadap sesama serta terhadap Allah SWT. Nabi menyampaikan pesan-pesan kunci tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan umat Islam, serta kesetaraan yang melarang rasisme yang umum terjadi pada masa itu. Di antara pesan terpenting adalah kesucian jiwa dan harta setiap Muslim, penghapusan riba dan tradisi jahiliah, serta perintah untuk memperlakukan perempuan dengan baik dan adil.

20. Khutbah ini memuat prinsip kesetaraan antarmanusia, perlindungan hak milik, keadilan gender, dan larangan penindasan yang menjadi fondasi etika universal dalam Islam.

Mubarakpuri, setelah Nabi menyampaikan khutbahnya, turunlah ayat ketiga dari Surat Al-Maidah yang bermakna, "Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu untukmu, telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agamamu." Menjelang akhir khutbah, atas permintaan Nabi, saudara Safwan yang bernama Rabiah yang memiliki suara lantang mengulangi pidato tersebut kalimat demi kalimat agar terdengar oleh seluruh jamaah. Nabi kemudian bertanya kepada umatnya apakah beliau telah menyampaikan risalah, dan ribuan jamaah menjawab serentak, "Allahumma Na'm" (Ya Allah, benar).

prinsip agung yang terkandung di dalamnya. Peristiwa Hajjatul Wida menyoroti kesucian kehidupan, harta, dan kehormatan, sekaligus menjadi panduan pelaksanaan ibadah haji tahunan. Ajaran-ajaran dalam Khutbah Wada memberikan dampak signifikan pada praktik haji, menjadikannya lebih dari sekadar kewajiban keagamaan. Berikut prinsip-prinsip utamanya:

kitab hadis dan menjadi panduan abadi bagi umat Islam.

Haji wada adalah ibadah haji terakhir yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun 10 Hijriyah (632 Masehi). Kata "wada" berasal dari bahasa Arab yang berarti perpisahan, sehingga sering disebut sebagai haji perpisahan.

Disebut haji perpisahan karena ibadah haji ini terjadi di tahun terakhir kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan beliau secara langsung berpamitan kepada umatnya. Sekitar tiga bulan setelah haji wada, Rasulullah wafat di Madinah.

Nabi Muhammad berangkat dari Madinah pada tanggal 25 Dzulqa'dah tahun 10 Hijriyah, yang bertepatan dengan sekitar Februari 632 Masehi. Puncak ibadah haji berupa wukuf di Arafah berlangsung pada 9 Dzulhijjah.

Ketika Nabi mengumumkan niatnya untuk berhaji, sekitar 100.000 sahabat berkumpul di Madinah. Berbagai sumber menyebutkan jumlah total jamaah berkisar antara 100.000 hingga 140.000 orang dari seluruh Jazirah Arab.

Balagh (Haji Penyampaian) karena turunnya ayat tabligh, serta Hajjat al-Islam karena merupakan satu-satunya haji Nabi yang dilaksanakan sepenuhnya menurut syariat Islam. Sebagian sahabat juga menyebutnya Hajjatu Rasulillah.

pesan tentang hak asasi manusia, kesetaraan, dan kewajiban berpegang pada Al-Quran serta Sunnah.

Qiran, yaitu haji yang menggabungkan umrah dan haji secara bersamaan. Jenis haji ini mengharuskan jamaah tetap dalam keadaan ihram dari awal hingga seluruh rangkaian ibadah selesai.

Ikuti kabar tips dan trik hanya di Kapanlagi.com. Kalau bukan sekarang, KapanLagi?

LITTLE BROTHER, BIG TROUBLE: A CHRISTMAS ADVENTURE

Rekomendasi Terkait