Bisnis 04 May 2026

Rupiah Menguat ke Rp 17.334 di Tengah Isu Ketahanan Fiskal RI Soal Naiknya Harga Minyak Dunia

Rupiah Menguat ke Rp 17.334 di Tengah Isu Ketahanan Fiskal RI Soal Naiknya Harga Minyak Dunia

PLAZNEWS — Jakarta, VIVA Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.378 pada Kamis, 30 April 2026. Posisi rupiah itu melemah 54 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.324 pada perdagangan Rabu, 29 April 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 4 Mei 2026 hingga pukul 09.03 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.334 per dolar AS. Posisi itu menguat 3 poin atau 0,02 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.337 per dolar AS.

Tumpukan uang rupiah dengan berbagai nominal Photo : istockphoto.com

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan (Brent Crude Oil US$122 per barel dan WTIi Crude Oil US_108 perbarel).

Kenaikan ini membuat kebutuhan dollar AS untuk pembelian minyak mentah sebesar 1,5 juta barel per hari semakin tinggi. Tingginya harga minyak diproyeksikan dapat menambah tekanan neraca transaksi berjalan dan menggerus ketahanan fiskal. Beban subsidi akibat kenaikan harga minyak juga diestimasikan bakal menekan APBN 2026.

Sebab, dalam asumsi APBN harga minyak berada di US$70 per barel, sementara harga saat ini kembali bertengger di atas US$100 per barel bahkan menembus US$120 per barel. Sehingga setiap kenaikan minyak US$1 per barel berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi senilai Rp10 triliun hingga Rp13 triliun per tahun.

Selain itu, dampak kebijakan MSCI yang menahan aliran dana asing, membuat mata uang rupiah tertekan di tengah kombinasi sentimen global, tekanan makro, dan dinamika domestik. Keputusan tersebut membuka potensi keluarnya dana asing atau outflow hingga Rp 15 triliun.

Deliverable Forward (DNDF), pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur, serta menjaga daya tarik instrumen rupiah seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

BI juga perlu menjaga komunikasi agar pasar yakin bahwa pelemahan rupiah tidak akan dibiarkan menjadi tidak teratur. Kenaikan suku bunga acuan sebaiknya menjadi pilihan terakhir, yaitu bila pelemahan rupiah makin cepat, inflasi impor mulai melebar, arus modal keluar membesar, dan instrumen pasar tidak lagi cukup menahan tekanan.

Rekomendasi Terkait