PLAZNEWS — Jakarta, VIVA Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gejolakglobal dengan melakukan stress testpada sektor jasa keuangan di Tanah Air.
Langkah ini diambil menyusul ketidakpastian yang masih membayangi pasar akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Berlanjutnya penutupan Selat Hormuz juga memperparah distribusi global yang mendorong harga minyak global tetap tinggi.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan sektor keuangan masih stabil. Perempuan yang akrab disapa Kiky menyinggung kinerja perekonomian global masih dihadapkan berlanjutnya ketidakpastian kondisi geopolitik meski tercapai kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.
"Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan pada 30 April 2026, menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global," ujar Kiky dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan pada Selasa, 5 Mei 2026 di Jakarta.
Ia menambahkan, tekanan global turut mendorong International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia. Dalam laporan World Economic Outlook April 2026, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,1 persen dengan risiko stagflasi yang meningkat.
juga menahan suku bunga acuan di level 3,5 persen hingga 3,75 persen dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada April 2026. Sikap hawkish The Fed di tengah tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi negara Paman Sam.
Kiky mengatakan, OJK akan melakukan stress test untuk mengantisipasi dinamika pasar seiring belanjutnya penutupan Selat Hormuz dan potensi kegagalan gencatan senjata. Upaya ini dilakukan melalui pemantauan intensif dengan berbagai skenario guna memastikan ketahanan industri terhadap potensi guncangan.
Adanya ketidakpastian penyelesaian konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang mengakibatkan fluktuasi di pasar keuangan, OJK melakukan pemantuan intensif untuk memastikan ketahanan sektor jasa keuangan, termasuk melakukan stress test dengan berbagai skenario terhadap industri jasa keuangan, serta memperkuat pengawasan lembaga jasa keuangan, jelas Friderica.
Di tengah tekanan global dan memudarkan optimisme lembaga keuangan internasional, ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I-2026, didorong konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.