PLAZNEWS — Jakarta, VIVA Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) global belum menunjukkan tanda mereda. Memasuki bulan Mei 2026, sejumlah perusahaan besar global dari sektor manufaktur, teknologi, hingga jasa keuangan telah mengumumkan rencana pemangkasan karyawan.
semakin banyak perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat (AS) mengajukan atau mengkonfirmasi rencana PHK yang akan dimulai atau berlanjut pada bulan Mei. Perampingan karyawan terus berlanjut meski sejumlah indikator ekonomi mulai stabil.
19 belum sepenuhnya berakhir. Setelah sempat mereda, tekanan efisiensi, transformasi digital, serta ketidakpastian ekonomi global kembali mendorong perusahaan melakukan restrukturisasi, termasuk pengurangan tenaga kerja dalam skala besar.
Waktu pelaksanaan PHK menjadi faktor krusial bagi para pekerja yang terdampak. Tidak hanya pada kehilangan pekerjaan, tetapi juga berpengaruh terhadap perlindungan asuransi kesehatan, pesangon, hingga akses terhadap pelatihan ulang atau tunjangan pengangguran menjelang musim panas.
Di tingkat yang lebih luas, gelombang PHK berpotensi menekan ekonomi lokal. Terutama wilayah tersebut hanya bergantung pada satu atau beberapa perusahaan besar sebagai penyerap tenaga kerja utama.
Dokumen WARN merupakan salah satu indikator paling transparan untuk memantau gelombang PHK di AS. Meski tidak mencakup seluruh kasus, laporan ini wajib diajukan perusahaan untuk penutupan fasilitas atau PHK massal yang melibatkan minimal 50 karyawan.
Melansir Newsweek pada Senin, 4 Mei 2026, daftar perusahaan yang telah mengajukan pemberitahuan PHK pada bulan ini sebagai berikut:
Selain itu, sejumlah perusahaan lain juga tercatat dalam dokumen publik WARN, antara lain: