PLAZNEWS — Pemerintah memulai babak baru program hilirisasi nasional. Sebanyak 13 proyek strategis dengan nilai investasi Rp116 triliun yang ditopang konsolidasi pembiayaan melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) itu resmi memasuki tahap pembangunan pada tahun ini.
Di sektor perkebunan, implementasi hilirisasi tahap kedua mulai terlihat melalui pembangunan fasilitas pengolahan kelapa sawit di Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara.
holding PTPN III (Perseo), PTPN IV PalmCo, sebagai bagian dari transformasi industri sawit nasional.
Ryanto Wisnuardhy, mengatakan bahwa pengembangan industri turunan sawit menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan impor energi, khususnya bahan bakar solar.
"Kebutuhan solar kita masih sangat besar. Melalui biodiesel berbasis sawit, kita berupaya memperkuat pasokan dari dalam negeri. Kebutuhan tersebut diperkirakan meningkat seiring rencana implementasi program campuran biodiesel B50 dalam waktu dekat," ungkapnya.
Sementara Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa, menjelaskan bahwa pabrik oleofood akan memproduksi margarin dan shortening dengan kapasitas 35 ribu ton per tahun, serta cocoa butter substitusi sekitar 25 ribu ton per tahun.
Selain itu, pabrik biodiesel berkapasitas 450 ribu ton per tahun juga tengah dibangun dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2028. Menurutnya, pengolahan produk sawit di dalam negeri mampu meningkatkan nilai tambah secara signifikan dibandingkan penjualan bahan mentah.
Jika diolah maka nilai ekonominya bisa meningkat hingga belasan kali lipat. Hilirisasi tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga mengubah struktur ekonomi dari hulu ke hilir yang lebih modern. Ini tentu membuka lapangan kerja, ujar dia.