PLAZNEWS — Jakarta, VIVA Road Map Green Energy nasional menempatkan pengembangan pembangkit berbasis energi terbarukan termasuk surya dan angin sebagai prioritas strategis. Namun karakteristik intermiten EBT menghadirkan kompleksitas baru bagi manajemen sistem kelistrikan.
Untuk memastikan transisi energi berjalan tanpa mengorbankan kualitas pasokan, PLN menyiapkan tiga pilar teknologi utama: implementasi Smart Grid, digitalisasi sistem proteksi, serta pengembangan Battery Energy Storage System (BESS). Teknologi-teknologi ini memungkinkan penyerapan daya EBT yang lebih fleksibel sekaligus menjaga stabilitas tegangan secara real-time.
Senior Manager Operasi Sistem PLN Unit Induk Pembangunan Pembangkit dan Jaringan (UIP2B) Jamali Elvanto Yanuar Ikhsan mengungkapkan, dinamika frekuensi yang berubah-ubah serta potensi penurunan inersia sistem menjadi perhatian utama operator jaringan.
Kompleksitas beban di sistem Jamali kian meningkat seiring masuknya variabel Energi Baru dan Terbarukan. Sistem harus siap menghadapi variabilitas dan stabilitas kelistrikan, ujar Elvanto dikutip dari keterangannya, Selasa, 5 Mei 2026.
Untuk mengakselerasi transisi energi terbarukan PLN Unit Induk Pembangunan Pembangkit dan Jaringan (UIP2B) Jamali pun menggelar program PLN Mengajar di Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia (DTE FTUI).
Kegiatan bertema Dampak Beroperasinya Pembangkit Energi Baru dan Terbarukan pada Keandalan Sistem Jawa, Madura, dan Bali ini menjadi bagian dari upaya PLN dalam mempercepat pemahaman publik terhadap transisi energi nasional menuju net zero emission 2060.
Hadir sebagai dosen tamu, Elvanto Yanuar Ikhsan, bersama Manager Analisis dan Evaluasi Operasi Sistem Suci Rositawati, serta Assistant Manager Pengelolaan Data Aplikasi dan Data Operasi Real Time Bilkis Mukhlisoti. Para mahasiswa mendapatkan wawasan teknis langsung mengenai tantangan dan strategi integrasi EBT dalam sistem tenaga listrik skala besar.
gas (30,5%), EBT (8,4%), dan lainnya (0,9%) sebuah potret awal yang terus didorong untuk bergeser ke porsi EBT yang lebih besar. Dibandingkan Thailand yang mencapai EBT 22,3% dan Malaysia sebesar 7%, Indonesia memiliki ruang akselerasi yang signifikan sekaligus tantangan teknis yang tidak kecil.
Program PLN Mengajar merupakan wujud nyata komitmen PLN dalam membangun ekosistem SDM yang siap mengawal transisi energi. Mahasiswa Teknik Elektro UI diharapkan menjadi generasi insinyur yang tidak hanya memahami aspek teknis EBT, tetapi juga mampu berkontribusi dalam riset dan inovasi untuk mendukung ketahanan energi nasional.